Total Tayangan Laman

Kamis, 10 Januari 2013

sejarah batu menhir

batu menhit di Dukuh Mujan merupakan daerah perbukitan yang letaknya diantara pertemuan sungai Klawing dengan sungai Lokrang.  Meskipun demikian pada 40.000 tahun yang lalu sudah ditempati oleh manusia keturunan bangsa Proto Melayu ras Austronesia yang berasimilasi dengan ras Austro-Melanesoid. Keturunan inilah yang kemudian menjadi berbagai suku bangsa yang menyebar diseluruh Indonesia. Oleh karena itu dalam persebarannya mereka membawa hasil-hasil kebudayaan batu besar yang berkembang sejak kebudayaan muda atau neolithicum sampai pada jaman kebudayaan logam. Bukan hanya itu saja, dalam persebarannya mereka juga telah mengembangkan sistim kepercayaan animisme dan dinamisme. 
Pada perkembangan lebih lanjut, mereka membuat bangunan-bangunan megalithik yang bertujuan untuk menghormati dan menyembah arwah nenek moyang. Adapun bentuk bangunan megalithik yang terdapat di dukuh Mujan berupa  menhir. 
Menhir yang mereka bangun bentuknya semacam tugu terbuat dari lempengan batu utuh. Lempengan batu ini kemudian sebagian ditanam di dalam tanah, sedangkan sisanya ada di atas permukaan tanah. Bangunan ini digunakan untuk mengikat hewan kurban pada saat melakukan upacara  pemujaan terhadap arwah nenek moyang.  Hal ini sangat mungkin, karena batu menhir tersebut ditanam berjajar. Tetapi apabila dibandingkan dengan batu menhir yang ditemukan di Sumatera, Sulawesi Tengah dan Kalimantan sudah diberi ukiran semacam kepala manusia. Namun keberadaan batu menhir yang terdapat di dukuh Mujan terbuat dari lempengan batu kali ( batu granit ) yang sangat keras, sehingga sangat sulit untuk diukir.
Dengan perbandingan semacam itu, menunjukkan bahwa manusia purba yang pernah menempati dukuh Mujan belum mengenal seni pahat atau relief. Hal ini terbukti dari bangunan batu menhir yang masih polos dan belum sedikitpun mendapat sentuhan seni.  Sehingga  batu menhir yang mereka dirikan sangat mungkin merupakan bangunan batu besar yang lebih tua usianya, jika dibandingkan dengan yang ditemukan pada daerah-daerah lain di Indonesia.
Maka jika ditinjau dari pendapat para ahli arkheologi, peninggalan tersebut mulai berkembang pada jaman kebudayaan batu madya. Karena pada jaman ini manusia purba sudah mulai mengenal sistim kepercayaan, seni lukis, meskipun bentuknya masih sederhana, sedangkan bentuk seni yang lain seperti relief belum dikenal. Oleh karena itu mereka hanya memanfaatkan batu yang pada sisi sebelahnya sudah rata.
Menurut keterangan dari penduduk setempat sisa bangunan tersebut jumlahnya ada lima buah, tetapi yang berhasil ditemukan kembali hanya empat buah, sedangkan yang satu buah lagi tidak dapat ditemukan. 
Selain itu, dari hasil ekskavasi juga ditemukan benda-benda lain, seperti gelang, gelas dan gamparan semacam alas kaki. Benda – benda tersebut merupakan perhiasan dan terbuat dari batu chalsedon yang sangat indah warnannya.
Setelah diadakan penggalian  oleh para arkheolog dari Universitas Gajah Mada, Jogjakarta, tahun 1980, maka bangunan tersebut dikembalikan ketempat  semula, meskipun tidak menjadi satu lokasi. Sedangkan pemeliharaan dan perawatan bangunan tersebut sampai sekarang masih dibawah tanggung jawab Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan, serta dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 5, tahun 1992.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar